DERMATOMIOSITIS ANTI-MDA5: LAPORAN DUA KASUS SUATU ENTITAS DENGAN MANIFESTASI DAN PROGNOSIS BERAGAM

Authors

  • P. Anthony Halim Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Christie Hamdali Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Andravina Pranathania Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Eyleny Meisyah Fitri Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Windy Keumala Budianti Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Endi Novianto Departemen Dermatologi dan Venereologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta
  • Luh Ari Indrawati Departemen Neurologi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, RS dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta

DOI:

https://doi.org/10.33820/mdvi.v52i1.505

Keywords:

dermatomiositis, anti-MDA5, autoimunitas, interstitial lung disease

Abstract

Pendahuluan: Dermatomiositis anti-melanoma differentiation-associated protein 5 (DM-MDA5) adalah penyakit autoimun sistemik langka yang memiliki temuan klinis bervariasi dan banyak dipelajari dalam satu dekade terakhir. Subtipe tersebut umumnya bermanifestasi sebagai DM amiopatik atau hipomiopatik, sering disertai intersitial lung disease (ILD) berpotensi fatal. Dalam makalah ini, kami melaporkan untuk pertama kalinya di Indonesia, variasi gambaran klinis, radiologis, laboratorium, dan prognosis dua kasus DM-MDA5. Kasus: Pasien pertama, seorang perempuan 25 tahun dengan ruam kemerahan khas DM, kelemahan otot ringan, artralgia, dan alopesia. Pasien kedua, seorang perempuan 43 tahun dengan ruam kemerahan khas DM, ulserasi kulit, rambut rontok, kelemahan otot, nyeri sendi, dan sesak nafas. Diagnosis DM ditegakkan sesuai kriteria Sontheimer dan American College of Rheumatologist/European League Against Rheumatism (ACR/EULAR) 2017. Pada kedua pasien terdeteksi anti-MDA5 dengan titer positif kuat. Rontgen toraks dan CT scan menunjukkan ILD pada pasien kedua. Tata laksana kombinasi menggunakan kortikosteroid dan imunosupresan sistemik, kortikosteroid topikal, penghambat kalsineurin topikal, dan fotoproteksi ketat memperbaiki gejala klinis pada kedua pasien. Diskusi: Pasien DM-MDA5 dapat digolongkan menjadi beberapa fenotipe klinis sesuai temuan klinis dan laboratorium, dengan prognosis beragam terkait insidensi ILD. Kasus pertama memiliki prognosis baik, sedangkan kasus kedua cenderung memiliki prognosis sedang. Hingga kini, belum terdapat tata laksana spesifik DM-MDA5, tetapi terapi antifibrotik dapat bermanfaat pada kasus dengan ILD. Kesimpulan: Klinisi perlu mengenali subtipe DM ini karena memiliki manifestasi yang bervariasi namun cukup khas, dengan prognosis yang beragam. Evaluasi dan tata laksana dini secara multidisiplin pada pasien DM-MDA5 dapat mencegah progresivitas penyakit dan kematian akibat komplikasi.

Downloads

Download data is not yet available.

References

1. Lu X, Peng Q, Wang G. Anti-MDA5 antibody-positive dermatomyositis: pathogenesis and clinical progress. Nat Rev Rheumatol. 2024;20:48–62.
2. Nombel A, Fabien N, Coutant F. Dermatomyositis with anti-MDA5 antibodies: Bioclinical features, pathogenesis and emerging therapies. Front Immunol. 2021;12:1–18.
3. Narang NS, Casciola?Rosen L, Li S, Chung L, Fiorentino DF. Cutaneous ulceration in dermatomyositis: association with anti–melanoma differentiation–associated gene 5 antibodies and interstitial lung disease. Arthritis Care Res. 2015;67:667–72.
4. Hodgkinson LM, Wu TT, Fiorentino DF. Dermatomyositis autoantibodies: how can we maximize utility? Ann Transl Med. 2021;9:433–433.
5. Diaz?Menindez M, Sullivan MM, Wang B, Majithia V, Abril A, Butendieck RR, dkk. Dermatomyositis in association with SARS?CoV?2 infection or COVID?19 vaccine. Arthritis Care Res. 2024;76:98–104.
6. Jin Q, Fu L, Yang H, Chen X, Lin S, Huang Z, dkk. Peripheral lymphocyte count defines the clinical phenotypes and prognosis in patients with anti?MDA5?positive dermatomyositis. J Intern Med. 2023;293:494–507.
7. Xu L, You H, Wang L, Lv C, Yuan F, Li J, dkk. Identification of three different phenotypes in anti–melanoma differentiation–associated gene 5 antibody–positive dermatomyositis patients: Implications for prediction of rapidly progressive interstitial lung disease. Arthritis Rheumatol. 2023;75:609–19.
8. Huang K, Vinik O, Shojania K, Yeung J, Shupak R, Nimmo M, dkk. Clinical spectrum and therapeutics in Canadian patients with anti-melanoma differentiation-associated gene 5 (MDA5)-positive dermatomyositis: a case-based review. Rheumatol Int. 2019;39:1971–81.
9. Wilfong EM, Aggarwal R. Role of antifibrotics in the management of idiopathic inflammatory myopathy associated interstitial lung disease. Ther Adv Musculoskelet Dis. 2021;13:1759720X2110609

Published

2025-03-31

How to Cite

Halim, P. A., Hamdali, C., Pranathania, A., Fitri, E. M., Budianti, W. K., Novianto, E., & Indrawati, L. A. (2025). DERMATOMIOSITIS ANTI-MDA5: LAPORAN DUA KASUS SUATU ENTITAS DENGAN MANIFESTASI DAN PROGNOSIS BERAGAM. Media Dermato-Venereologica Indonesiana, 52(1), 38–43. https://doi.org/10.33820/mdvi.v52i1.505