LUPUS VULGARIS REGIO GENU SINISTRA: LAPORAN KASUS DIAGNOSIS HISTOPATOLOGIS DAN RESPONS TERHADAP OBAT ANTITUBERKULOSIS
DOI:
https://doi.org/10.33820/mdvi.v52i4.574Keywords:
antituberculosis therapy, cutaneous tuberculosis, granuloma, histopathology, lupus vulgarisAbstract
Pendahuluan: Lupus vulgaris merupakan bentuk kronik tuberkulosis kutis yang berkembang perlahan, umumnya berupa plak eritematosa berskuama pada area ekstensor. Diagnosis sering terlambat karena menyerupai dermatosis kronik lain, sehingga diperlukan konfirmasi histopatologi. Kasus: Dilaporkan satu kasus seorang perempuan usia 39 tahun yang datang dengan keluhan bercak merah disertai rasa gatal di lutut kiri. Evaluasi dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik umum dan dermatologis, pemeriksaan penunjang berupa foto toraks, uji laboratorium darah lengkap, serta pemeriksaan histopatologi kulit. Ditemukan plak multipel eritematosa berbatas tegas dengan skuama kasar pada regio genu sinistra. Histopatologi menunjukkan granuloma tuberkuloid dengan sel epitelioid, sel datia Langhans, dan fokus nekrosis sugestif perkijuan. Kultur dan radiologi paru tidak menunjukkan kelainan. Terapi kombinasi obat antituberkulosis selama enam bulan menghasilkan perbaikan klinis berupa makula hiperpigmentasi tanpa ulserasi. Diskusi: Kasus ini menunjukkan bahwa lupus vulgaris merupakan bentuk tuberkulosis kutis yang bersifat pausibasiler, sehingga pemeriksaan bakteriologis dan radiologis dapat memberikan hasil negatif. Oleh karena itu, penegakan diagnosis memerlukan korelasi antara gambaran klinis, temuan histopatologis, serta evaluasi respons terhadap terapi antituberkulosis. Tidak ditemukannya keterlibatan sistemik pada kasus ini menegaskan bahwa lupus vulgaris dapat muncul sebagai manifestasi kutan primer. Kesimpulan: Diagnosis lupus vulgaris memerlukan pendekatan multidisipliner yang melibatkan dokter spesialis dermatologi dan patologi anatomi untuk memastikan diagnosis dan menyingkirkan infeksi sistemik. Pemberian obat antituberkulosis jangka panjang memberikan hasil baik pada kasus dengan manifestasi kutan tanpa keterlibatan sistemik.
Downloads
References
1. James WD, Elston DM, Treat JR, Rosenbach MA, Neuhaus IM. Fitzpatrick’s dermatology. 9th ed. New York: McGraw-Hill Education; 2019. p. 2858-66.
2. Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FKUI. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-7. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2017. p. 78-86.
3. Sampurna DL, Widiarta AK. Tuberkulosis kulit: review kasus dan penatalaksanaan. J Dermatol Indones. 2019;5(1):29-36.
4. World Health Organization. WHO guidelines for tuberculosis. Geneva: WHO; 2020.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Panduan penanganan tuberkulosis nasional. Jakarta: Kemenkes RI; 2021.
6. Ramli R, Hidayat A, Lestari A. Lupus vulgaris pada regio pipi: tantangan diagnosis dan tatalaksana. Majalah Dermatol Venereol Indones. 2022;39(2):61-6.
7. Kumar V, Abbas AK, Aster JC. Robbins and Cotran pathologic basis of disease. 10th ed. Philadelphia: Elsevier; 2020.
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Cornelia Kartik Matthew, Gina Triana Sutedja, Evalina P. Manurung

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











