ERITRODERMA PADA ANAK LAKI-LAKI 13 TAHUN : LAPORAN KASUS JARANG
DOI:
https://doi.org/10.33820/mdvi.v52i4.540Keywords:
erythoderma, pediatric, drug eruptions, exfoliative dermatitisAbstract
Pendahuluan: Eritroderma adalah kelainan kulit langka yang ditandai dengan eritema dan skuama pada ≥90% permukaan tubuh. Etiopatogenesisnya meliputi inflamasi, infeksi, imunologi, kelainan kongenital, reaksi hipersensitivitas obat, dan idiopatik. Eritroderma akut ditandai dengan eritema menyeluruh dan eksfoliasi dalam 2–6 hari. Deteksi dini, identifikasi etiologi, dan tatalaksana yang tepat, seperti pemberian kortikosteroid dan antihistamin sistemik, penting karena kondisi ini mengancam jiwa. Kasus: Anak laki-laki 13 tahun dirujuk dengan keluhan kulit gatal, kemerahan, sisik tebal, dan sebagian sudah mengelupas selama 2 minggu. Awalnya muncul bintik merah gatal di perut, disertai demam menggigil. Riwayat operasi pelepasan plate 1 bulan sebelumnya diikuti penggunaan obat antinyeri dan antibiotik. Pemeriksaan menunjukkan makula hiperpigmentasi eritema dengan batas tidak jelas tertutup dengan skuama tipis konfluen pada regio generalisata, leukositosis, neutropenia, eosinofilia, dan hasil biopsi histopatologi berupa hiperkeratosis lamelar serta infiltrasi limfosit. Pasien didiagnosis eritroderma akibat erupsi obat dan diberikan kortikosteroid sistemik, antihistamin, serta kortikosteroid topikal. Diskusi: Eritroderma pada pasien pediatri termasuk kasus yang jarang dilaporkan, paling sering disebabkan oleh dermatitis atopi. Manifestasi klinis meliputi gatal, demam dan nyeri. Biopsi histopatologi bervariasi tergantung derajat keparahan dan onset inflamasi. Tatalaksana utama meliputi penghentian obat, pemberian kortikosteroid, antihistamin dan emolien. Kesimpulan: Eritroderma pada anak jarang terjadi, dengan 10% kasus disebabkan oleh obat. Identifikasi penyebab dan penghentian obat yang mencetuskan kelainan, diikuti terapi adekuat, dapat memperbaiki prognosis pasien.
Downloads
References
Nurhayati MA, Sofyan A, Anggara A. Eritroderma et causa alergi obat: case report. MedPro. 2020;2(2):91-5.
Miranti U, Misturiansyah NI, Nuridah AL, Amien MI, Yoga RR. Diagnosis dan tatalaksana eritroderma. CDK. 2024;51(6):311-5.
Avandi B, Ghahartars M, Kashkooli NM, Ahramiyanpour N, Parvizi MM. Epidemiological and clinical features of hospitalized erythroderma patients: a cross-sectional study. Iran J Dermatol. 2022;23(1):60-5.
Wisuthsarewong W, Nitiyarom R, Buddawong T. Exfoliative dermatitis in Thai children. Astrocyte. 2017;3(4):184-7.
Kliniec K, Snopkowska A, Lyko M, Jankowska-Konsur A. Erythroderma: a retrospective study of 212 patients hospitalized in a tertiary center in Lower Silesia, Poland. J Clin Med. 2024;13(3):645.
Tso S, Satchwell F, Moiz H, Hari T, Dhariwal S, Barlow R, et al. Erythroderma (exfoliative dermatitis) part 1: underlying causes, clinical presentation and pathogenesis. Br J Dermatol. 2021;46(1):1001-10.
Shirazi N, Jindal R, Jain A, Yadav K, Ahmad S. Erythroderma: a clinico-etiological study of 58 cases in a tertiary hospital of North India.
Inamadar AC, Ragunatha S. The rash that becomes an erythroderma. Clin Dermatol. 2019;37(1):88-98.
Kondo RN, Singh BS, Pizatto de Araujo MC, Ferreira VP, Marani JA, Gon AS. Erythroderma: clinical and etiological study of 88 cases seen in a tertiary hospital over 25 years. An Bras Dermatol. 2024;99(4):584-7.
Dharmawan N, Nareswari A, Fitriani F. Erythroderma caused by anti-tuberculoid drug in pulmonary tuberculosis and HIV-infected patient: a case report. J Pak Assoc Dermatol. 2023;33(1):350-3.
Harper-Kirksey K. Erythroderma. Life-Threatening Rashes. 2018;12(1):265-77.
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Ricky Irvan Ardiyanto

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.











