APLIKASI FORMULASI AZADIRACHTA INDICA DAN HYPERICUM PERFORATUM TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN ULKUS DIABETIKUM

  • Dedianto Hidajat
  • Nadia Puspa Dewi Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Mataram/RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • I Wayan Hendrawan Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Mataram/RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • I Gusti Agung Ayu Ratna Medikawati Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Mataram/RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • Yunita Hapsari Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Mataram/RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat
  • Dinie Ramdhani Kusuma Bagian/SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK Universitas Mataram/RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat
Kata Kunci: ulkus diabetikum, Azadirachta indica, Hypericum perforatum

Abstrak

FormulasiAzadirachta indica (neem) dan Hypericum perforatum telah digunakan sejak berabad-abad lalu dalam pengobatan tradisional. Minyak neem mengandung diterpenoid dan triterpenoid, sedangkan ekstrak minyak bunga Hypericum perforatum cukup populer untuk pengobatan ekskoriasi, luka, dan memar. Kedua ekstrak tanaman ini menunjukkan efek bakteriostatik, antifungi, imunomodulator, dan antiinflamasi, serta aman digunakan untuk perawatan luka bagian luar. Beberapa penelitian telah menunjukkan efikasi pemberian formulasi ini pada ulkus diabetikum.Seorang perempuan, 41 tahun, timbul luka pada kaki kanan yang tidak kunjung sembuh sejak 2 bulan. Pada pemeriksaan dermatologis tampak ulkus dengan bentuk tidak beraturan, soliter, berukuran 7,5x3,4x0,3 cm pada regio pedis dekstra bagian lateral. Kulit sekitar ulkus tampak tenang, tepi ulkus meninggi, dinding landai. Dasar ulkus terdiri atas jaringan granulasi dan bersih, tidak tampak pus. Pada palpasi tidak terasa nyeri. Ulkus tidak berbau. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan hiperglikemia dan hiperkolesterolemia. Pemeriksaan USG Doppler menunjukkan kesan deep vein thrombosis pada kruris dekstra.Pemberian formulasi Azadirachta indica dan Hypericum perforatum untuk terapi topikal pada ulkus memberikan perbaikan lesi.Setelah terapi selama 49 hari, luka ulkus diabetikum menutup sempurna.

References

1. Holoil System by Ri.Mos. R&D. What is Hyperoil?. 2018. [Disitasi 10 Agustus 2019]. Tersedia di: https://hyperoil.com/wp- content/uploads/2018/09/What-is-Hyperoil-2018.pdf
2. Alzohairy MA. Therapeutics role of Azadirachta indica (Neem) and their active constituents in diseases prevention and treatment. Evid Based Complement Alternat Med. 2016;
7382506:1-11.
3. Iabichella ML. In vitro bacteriostatic effect of a scaffold with
a mixture of Hypericum perforatum and Azadirachta indica
oil extracts. Brit J Med Med Res. 2015; 6: 431-8.
4. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia. Jakarta: PB Perkeni; 2015. h. 1.
5. Schachtel A, Kalus A. Diabetes and other endocrine diseases.
Dalam: Kang S, Amagai M, Bruckner AL, Enk AH, Margolis DJ, McMichael AJ, dkk., penyunting. Fitzpatrick’s Dermato- logy. Edisi ke-9. New York: McGraw-Hill Education; 2019. h. 2493-526.
6. Iabichella ML. The use of a mixture of hypericum perforatum and azadirachta indica for the management of diabetic foot ulcers: a case series. J Diabetes Metab. 2015; 6(2):1-6.
7. Nirjana M, Thayabaran M, Sathinjani WLY, Wijerathna AWIG. Prevalence and risk factors for diabetic foot ulcer among diabetes patients attending the medical clinic in teaching hospital Batticaloa. IJSRP. 2018; 8(2):523-27.
8. Pemayun TG, Naibaho RM, Novitasari D, Amin N, Minuljo TT. Risk factors for lower extremity amputation in patients with diabetic foot ulcers: a hospital-based case-control study. Diabet Foot Ankle. 2015;6:29629.
9. Sorensen MLB, Jansen RB, Fabricius TW, Jorgensen B, Svendsen OL. Healing of diabetic foot ulcers in patients treated at the Copenhagen wound healing center in 1999/2000 and in 2011/2012. J Diabetes Res. 2019; 6429575.
10. Banik PC, Barua L, Moniruzzaman M. Risk of diabetic foot ulcer and its associated factors among Bangladeshi subjects: a multicentric crosssectional study. BMJ Open. 2020;10:e034058.
11. Del Core MA. The evaluation and treatment of diabetic foot ulcers and diabetic foot infections. Foot & Ankle Orthopaedics. 2018. July: 1-11.
12. Barnes JA, Eid MA, Creager MA, Goodney PP. Epidemiology and risk of amputation in patients with diabetes mellitus and peripheral artery disease. Arterioscler Thromb Vasc Biol. 2020; 40(8):1808-17.
13. Rowe VL. Diabetic Ulcers. Medscape [Internet]. 2019 [Disitasi 24 Juli 2019]. Tersedia di: https://emedicine.medscape.com/article/460282-overview
14. Alotaibi HK, Abo el-Fetoh NM, Menwer Alanazi A, Alanazi OA, Alanazi AB, Alhowaish MA, dkk. Deep venous thrombosis among diabetic patients in King Abdulaziz University (KAU) Hospital, Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia. Electron Physician. 2017; 9 (9): 5185-90.
15. Giuggioli D. Use of neem oil and hypericum perforatum for treatment of calcinosis-related skin ulcers in systemic sclerosis. J Int Med Res. 2019; 48(4):1-9.
16. Iabichella ML. A case of skin ulcer in severe acute malnutrition treated with hyperoil. Austin J Clin Case Rep. 2017; 4(1):1111.
Diterbitkan
2022-07-12
Bagian
Laporan Kasus